Friday, November 4, 2011

1. Aneka Fungsi Hamzah


الهمزة al-hamzatu (al-hamzah, hamzah), huruf pertama dari abjad huruf Arab (hija’iyyah). Para ahli Barat sering menggambarkan hamzah sebagai glottal stop (penghentian bunyi dalam celah suara). Sering – secara keliru – disamakan dengan alif (ألف). Hamzah selalu bervokal, sedangkan alif sering kali hanya menandai  vokal panjang.
أ `a partikel (harfun), muncul 497 kali dalam Al-Qurãn dan berfungsi sebagai: I kata tanya (حرف استفهام harful-istifhãm) mendahului kalimat kata benda maupun kalimat kata kerja (bd. هل), yang jawabannya adalah ‘ya’ atau ‘tidak’.  Ketika hamzah sebagai kata tanya mendahului sebuah kata yang dimulai dengan hamzah seperti  pada (5: 116) أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاس apakah kamu mengatakan kepada manusia?  maka bisa terjadi salah satu dari dua proses a) salah satu dari kedua hamzah dihilangkan, seperti pada (19: 78) أطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَانِ عَهْدًا  apakah dia mengetahui al-ghaib (ilmu) ataukah dia telah membuat perjanjian dengan Ar-Rahmãn (Allah)?  atau b) atau hamzah kedua dengan fat’hah yang mendahuluinya, dalam beberapa versi bacaan, lebur ke dalam vokal panjang /ã/. Kasus ini dalam beberapa versi teks Al-Qurãn ditulis  آأ atau ءآ atau آ ; seperti pada (10: 59) آللهُ أذِنَ لَكُمْ apakah Allah telah mengijinkan kamu (untuk melakukan ini)?  Sebagai kata tanya hamzah digunakan alam Al-Qurãn sebagai pertanyaan retorik seperti contoh-contoh berikut: 1 untuk menuntut pengakuan (94: 1) ألَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ bukankah (dengan penurunan Al-Qurãn ini) Kami (Allah) sudah melegakan dadamu (Muhammad)? 2 untuk menegur (37: 95) أَ تَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ apakah kalian mengabdi sesuatu yang kalian buat  (dengan tangan) kalian sendiri? 3 untuk menolak (17: 40) أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِيْنَ وَ اتَّخَذَ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِنَاثًا apa? Apakah Tuhan kalian menganugerahi kalian anak lelaki sedangkan Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan dari bangsa malaikat sebagai putri-putrinya? 4 untuk mengajak dengan sopan  (57: 16) أَلَمْ يَأْن لَلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الحَقِّ ...   bukankah sudah waktunya bagi kaum beriman untuk merendahkan hati mereka demi membangun kesadaran menurut (ajaran) Allah seiring telah turunnya ajaran yang benar…? 5 untuk mengungkapkan keheranan (25: 45) أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جِعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلاً  tidakkah kamu perhatikan (cara kerja) Pembimbingmu, (misalnya) bagaimana Ia menghamparkan bayang-bayang (kegelapan)? Seandainya Ia menghendaki, dia pasti mampu menjadikannya (bayang-bayang) itu menetap. (Tapi karena Kami tidak menghendaki demikian, maka) kemudian Kami jadikan matahari sebagai penerang. 6 untuk mengungkapkan ketidak-percayaan (12: 90) قَالُوا أئِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ (Kakak-kakak Yusuf) bertanya (dengan penuh keraguan), “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” 7 untuk menyatakan keadaan yang bertentangan dengan harapan (11: 87) قَالُوا يَاشُعَيْبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا mereka (kaum Syu’aib) memprotes, “Hai Syu’aib, apakah da’wahmu (harf. shalatmu) memerintahkan agar kami meninggalkan ibadah (warisan turun-temurun dari) bapak-moyang kami? 8 untuk mengungkap penghinaan atau ejekan (21: 36) أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ ءَالِهَتِكُمْ Inikah orangnya yang menghina-hinakan (harf. menyebut) tuhan-tuhan kalian? 9 untuk menimbulkan perasaan bahwa keadaan sudah darurat (3: 20) قُلْ لِلَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ ءَأَسْلَمْتُمْ tegaskan olehmu (Muhammad) kepada (Yahudi)  Ahlul-Kitãb maupun kaum awam mereka, “Kalian mau masuk Islam (atau tidak)?”  Hamzah istifham sering kali diikuti dengan partikel penghubung wa (و) fa- () dan tsumma (ثمّ), yang semuanya berfungsi memberikan penekanan pada wacana secara keseluruhan, seperti dalam (7: 69) أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ apakah aneh bagi kalian bila peringatan dari pembimbing kalian datang melalui seorang lelaki di antara kalian – untuk menegur kalian?; (17: 68) أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ apakah kalian bakal aman bila Ia (Allah) membalikkan daratan menimpa kalian?; (10: 51) أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنْتُمْ apakah setelah nanti terjadi (bencana) baru kalian mau beriman? II partikel yang berfungsi sebagai panggilan jarak dekat dan atau menyatakan keakraban (نِدَاءُ الْقَرِيبِ ) (lihat يَا ). Konon ini muncul sekali dalam Al-Qurãn, dalam satu variasi bacaan (39: 9) أَمَّنْ هُوَ قانِتٌ ءَانَاءَ الَّيلِ hai dia (baca: kamu)  yang tekun beribadah di waktu malam! berbeda dari bacaan standar  أَمْ مَنْ هُوَ قانِتٌ ءَانَاءَ الَّيلِ atau dia yang tekun  beribadah di waktu malam III hamzah penyetaraan (di antara dua posisi) (هَمْزَةُ التَّسْوِيَةِ), dengan أ   memastikan posisi pertama dan posisi kedua biasanya dipastikan dengan  أَمْ , memunculkan makna ‘apakah (… ataukah)’, biasanya, tapi tidak selalu, muncul setelah sawã’(un) سَوَاءٌ (membentuk sebuah frasa –tarkîb  سَوَاءٌ عَلَى ... أ ... أم ‘sama sajalah apakah’, ‘tidak peduli apakah’) (2: 6) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ sungguh bagi orang-orang kafir, tak ada bedanya apakah kamu memberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan mau beriman.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment